HIDUP ADALAH KEMURAHAN TUHAN
Suatu hari saya berjalan menyusuri sebuah desa. Di sana aku tinggal bersama sebuah keluarga dengan dua orang anak, satu laki dan satunya perempuan. Sang ayah bekerja sebagai guru SD dan sepulang sekolah memberi pakan pada lembu . Si ibu setiap hari keladang mencari pakan ternak dan menanam tanaman musiman yang bisa menghasilkan cepat untuk dijual kepasar. Saat malam tiba sang ayah bercerita bagaimana mereka menjalani hidup setiap hari ,mencari nafkah untuk memenuhi hidup keluarganya apalagi sianak pertama sedang kuliah dan adiknya smu. Oangtua sungguh berupaya untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya walaupun kadangkala ada kekurangan ,keluhan dsb. Maklumlah anak zaman sekarang begitulah ungkapnya. Sang kakak untungnya cukup mengerti dengan perjuangan orangtuannya sehingga ia tampak cukup dewasa dan sadar betul akan besarnya kebutuhan yang diperlukannya ,apalagi dia indekos. Sang ibu bercerita bagaimana ia menghadapi sang adik yang masih remaja menanjak dewasa mungkin sedang puberitas tetapi sang ibu dengan sabar menghadapinya. Ketika ibu sharing saya mencoba untuk meneguhkan hatinya untuk tetap sabar menasehati dan membimbing anaknya serta mendoakannya. Bapak dan ibu serahkan kepada Tuhan yakin dan percayalah dengan segala jerih payah dan iman pasti keduanya akan menjadi anak yang berhasil dan sukses dan Tuhan akan selalu memberkatinya. Semoga………….Amin. Kebahagian tampak diwajah mereka saya pun merasa senang saya bisa hidup berbagi dengan mereka. Akhirnya saya berpamitan dengan salam dan doa serta senyum kebahagian kami pun berpisah. Terimakasih bapak ibu telah menerima dan menjamu saya seperti anak sendiri kiranya Tuhan membalas segala kebaikanmu dan semoga suatu saat dilain kesempatan kita bisa bertemu lagi. Maturnuwun………………………………….2011.(live in Wonosari)
Minggu, 22 April 2012
Berkorban Itu Indah
Musim hujan sudah berlangsung selama dua bulan sehingga dimana-mana pepohonan tampak menjadi hijau. Seekor ulat menyeruak di antara daun-daun hijau yang bergoyang-goyang diterpa angin. " Apa Khabar daun hijau,"!! katanya. Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang. "Oo, kamu ulat. Badanmu kelihatan kecil dan kurus, mengapa?" tanya daun hijau. " Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku". " Bisakah engkau membantuku sobat?" kata ulat kecil. "Tentu..tentu..mendekatlah ke mari." Daun hijau berpikir, Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau, hanya saja aku akan kelihatan belobang-lobang. tapi tak apalah. Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau. Setelah makan dengan kenyang, ulat berterima kasih kepada daun hijau yang telah merelakan bagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas didalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlobang disana sini namun ia bahagia bisa melakukan bagi ulat kecil yang lapar. Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ketanah, disapu orang dan dibakar. Apa yang terlalu berarti di dalam hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit saja bagi sesama ? Tokh akhirnya semua yang ada akan binasa. Daun hijau yang baik mewakili orang-orang yang masih mempunyai "hati" bagi sesamanya. Yang tidak menutup mata ketika melihat sesamanya dalam kesulitan. Yang tidak membelakangi dan seolah-olah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak minta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri. merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban, diri kita sendiri menjadi seperti daun yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita. Kita akan tetap hijau, Allah akan tetap memberkati dan memelihara kita. Bagi "daun hijau" , berkorban merupakan satu hal yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya bisa tersenyum karena pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya karena menyadari bahwa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai daun hijau. Suatu hari ia akan kering dan jatuh. Demikianlah hidup kita, hidup ini hanya sementara kemudian kita akan mati. itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik : kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati. Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Dalam banyak hal kita bisa berkorban. mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka, memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang bisa dilakukan. Jangan lupa bahwa kita pernah menerima pengorbanan yang tiada taranyadari Yesus hingga kita bisa diselamatkan seperti sekarang ini.
TERLANJUR KUUTARAKAN
Berbicara adalah mengatakan segala sesuatu yang timbul dari pikiran untuk dilakukan apa saja bisa dikatakan dengan sesuka hati dan kepada siapa pun boleh berbicara. Berbicara bisa mudah tetapi bisa juga sulit tergantung bahan pembicaraannya dan siapa lawan bicaranya. Maka sebelum berbicara ada baiknya sadari tempat dimana kita berada siapa lawan bicara dan apa yang hendak kita katakan. Saya mempunyai sebuah pengalaman suatu hari kami ada acara sharing bersama. Setiap orang saling mengutarakan pendapat masing-masing .Sadar atau tidak pengalaman yang kuutarakan merupakan gambaran diriku. Saat saya menyadarinya pelan-pelan aku mencoba untuk mengenali siapa diriku dan bagaimana aku dihadapan sesamaku. Dari sharing teman saya juga bisa mengenal siapa mereka bagiku. Menurut saya perkataan yang diucapkan adalah sesuatu yang muncul dari pikiran dan hati. Saya telah mengatakan siapa diriku yang sesungguhnya. Pada kenyataannya ada juga bahwa apa yang dikatakan seseorang itu tidak sama seperti yang dilakukannya. Satu hal ini yang kadang tidak kumengerti kenapa orang bisa seperti itu apalagi dihadapan orang banyak. Menjadi pertanyaan bagi saya apakah itu juga disadarinya atau tidak? sungguh jauh dari realita hidup sehari-hari. Saya mengambil kesimpulan “ Terlanjur Kuutarakan” itulah yang terbersik dibenakku. Aku mulai bertanya mungkin hal inilah yang sering terjadi dalam hidup ini tanpa kita sadari apa yang kita utarakan tidak sesuai dengan apa yang kita perbuat. Dari sini saya bisa belajar supaya dalam berbicara itu katakanlah hal yang benar real dan bertindaklah juga dengan jujur. Satu hal yang menjadi refleksi saya mungkin juga setiap orang punya alas an yang terselubung hanya untuk menutupi kebobrokannya walaupun sebenarnya orang lain sudah mengetahui tapi seolah-olah ketika dia berkata-kata orang lain akan menerima dan memahaminya. Semoga mereka yang mendengar mengambil makna yang baiknya saja. Dari sini saya bisa belajar untuk lebih baik lagi dalam berbicara yang setimpal dengan apa yang saya alami dan perbuat sehingga ketika orang mendengar dapat menerima dan meresponnya dengan baik. Semoga………..
Yogya 2012.
Berbicara adalah mengatakan segala sesuatu yang timbul dari pikiran untuk dilakukan apa saja bisa dikatakan dengan sesuka hati dan kepada siapa pun boleh berbicara. Berbicara bisa mudah tetapi bisa juga sulit tergantung bahan pembicaraannya dan siapa lawan bicaranya. Maka sebelum berbicara ada baiknya sadari tempat dimana kita berada siapa lawan bicara dan apa yang hendak kita katakan. Saya mempunyai sebuah pengalaman suatu hari kami ada acara sharing bersama. Setiap orang saling mengutarakan pendapat masing-masing .Sadar atau tidak pengalaman yang kuutarakan merupakan gambaran diriku. Saat saya menyadarinya pelan-pelan aku mencoba untuk mengenali siapa diriku dan bagaimana aku dihadapan sesamaku. Dari sharing teman saya juga bisa mengenal siapa mereka bagiku. Menurut saya perkataan yang diucapkan adalah sesuatu yang muncul dari pikiran dan hati. Saya telah mengatakan siapa diriku yang sesungguhnya. Pada kenyataannya ada juga bahwa apa yang dikatakan seseorang itu tidak sama seperti yang dilakukannya. Satu hal ini yang kadang tidak kumengerti kenapa orang bisa seperti itu apalagi dihadapan orang banyak. Menjadi pertanyaan bagi saya apakah itu juga disadarinya atau tidak? sungguh jauh dari realita hidup sehari-hari. Saya mengambil kesimpulan “ Terlanjur Kuutarakan” itulah yang terbersik dibenakku. Aku mulai bertanya mungkin hal inilah yang sering terjadi dalam hidup ini tanpa kita sadari apa yang kita utarakan tidak sesuai dengan apa yang kita perbuat. Dari sini saya bisa belajar supaya dalam berbicara itu katakanlah hal yang benar real dan bertindaklah juga dengan jujur. Satu hal yang menjadi refleksi saya mungkin juga setiap orang punya alas an yang terselubung hanya untuk menutupi kebobrokannya walaupun sebenarnya orang lain sudah mengetahui tapi seolah-olah ketika dia berkata-kata orang lain akan menerima dan memahaminya. Semoga mereka yang mendengar mengambil makna yang baiknya saja. Dari sini saya bisa belajar untuk lebih baik lagi dalam berbicara yang setimpal dengan apa yang saya alami dan perbuat sehingga ketika orang mendengar dapat menerima dan meresponnya dengan baik. Semoga………..
Yogya 2012.
Jenuh menunggu
Manusia ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkanya dia akan merasa bahagia,tetapi sebaliknya ketika ketika dia tidak mendapatkan keinginannya dia akan mrasa kecewa.
Konsekuensi menjadi mahasiswa membuat saya sering kecewa kenapa? Yah seringkali saya itu pulang pergi kampus tanpa mendapatkan apa-apa. Pergi kekampus dengan jalan kaki sekitar 200 meter ,menunggu bus kira-kira 1 jam, kadang hujan deras dan terik matahari, di dalam bus kadang berdiri, bus yang terlalu kencang dan pada saat turun naik harus cepat kalau tidak kaki bisa tinggal sebelah atau hamper jatuh aduh pokoknya jantungan deh….eh..sampai dikampus kosong enggak kuliah. Jam sudah jam 5 sore dan saya pulang harus menunggu bus 1 jam lagi eh…itu pun tak ada maksud hati untuk irit ongkos saya rela menunggu sampai berja-jam eh..ternyata tidak ada dengan rasa kesal dan hari semakin gelap akhirnya saya naik taxi. Dibenak saya aduh ongkos saya bulan ini bisa sangat besar. Hati ini kesal, marah pada siapa ya?....yah dalam hati saya menghibur diri terima dan jalani aja yah mau bilang apa lagi memang beginilah keadaannya. Sebagai orang beriman saya berdoa Tuhan beri saya kesabaran ,saya percaya Engkau akan selalu menghibur dan memberikan jalan yang terbaik bagiku . jangan sampai aku patah semangat , aku harus bangkit ,semangat lagi…..semangat…….yes. Semoga…..(yogya,8maret2012)
Manusia ketika mendapatkan sesuatu yang diinginkanya dia akan merasa bahagia,tetapi sebaliknya ketika ketika dia tidak mendapatkan keinginannya dia akan mrasa kecewa.
Konsekuensi menjadi mahasiswa membuat saya sering kecewa kenapa? Yah seringkali saya itu pulang pergi kampus tanpa mendapatkan apa-apa. Pergi kekampus dengan jalan kaki sekitar 200 meter ,menunggu bus kira-kira 1 jam, kadang hujan deras dan terik matahari, di dalam bus kadang berdiri, bus yang terlalu kencang dan pada saat turun naik harus cepat kalau tidak kaki bisa tinggal sebelah atau hamper jatuh aduh pokoknya jantungan deh….eh..sampai dikampus kosong enggak kuliah. Jam sudah jam 5 sore dan saya pulang harus menunggu bus 1 jam lagi eh…itu pun tak ada maksud hati untuk irit ongkos saya rela menunggu sampai berja-jam eh..ternyata tidak ada dengan rasa kesal dan hari semakin gelap akhirnya saya naik taxi. Dibenak saya aduh ongkos saya bulan ini bisa sangat besar. Hati ini kesal, marah pada siapa ya?....yah dalam hati saya menghibur diri terima dan jalani aja yah mau bilang apa lagi memang beginilah keadaannya. Sebagai orang beriman saya berdoa Tuhan beri saya kesabaran ,saya percaya Engkau akan selalu menghibur dan memberikan jalan yang terbaik bagiku . jangan sampai aku patah semangat , aku harus bangkit ,semangat lagi…..semangat…….yes. Semoga…..(yogya,8maret2012)
Langganan:
Postingan (Atom)
